Senin, 09 Juni 2014

hasil penelitian antropologi arstektur: simbol dan makna candi ngetos

Makalah Kelompok Antropologi Arsitektur
Simbol Dan Makna Candi Ngetos
Di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur


Disusun oleh:
Wahono eko p



Fakultas ilmu sosial dan ilmu politik
Universitas airlangga
2014




Kata Pengantar


Puji syukur kita panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami selaku kelompok dalam mata kuliah Antropologi Arsitektur dapat menyelesaikan laporan ini dengan judul “Simbol Dan Makna Candi Ngetos Di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur” ini secara baik dan lancar.
Yang ke dua tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Budi Setiawan selaku dosen mata kuliah Antropologi Arsitektur, karena atas bimbingan beliau selama ini mka kami mendapatkan berbagai ilmu yang sangat bermanfaat  guna menyelesaikan laporan ini. Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Aziz selaku narasumber dalam pencarian data untuk laporan ini Tak lupa kami mengucapkan terima kasih juga kepada teman-teman yang telah memberikan semangat, saran dan dukungan kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya .
Laporan ini ditulis dan disusun dari hasil penyusunan data-data yang kami peroleh dari hasil penelitian di Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur pada tanggal 16-17 Mei 2014. Kami sangat mengharapkan, laporan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Laporan ini kami rasa masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat dibutuhkan untuk lebih menyempurnakan makalah kami ini.



                                                                                      Tim Penulis








BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
Candi ngetos adalah salah satu situs bersajarah yang berada di wilayah Jawa Timur. Situs ini berada di bagian selatan Kota Nganjuk, tepatnya di Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Meskipun tidak begitu terkenal dibandingkan candi-candi lain, namun candi Ngetos memiliki cerita tersendiri yang membuatnya menarik untuk dipelajari. Dalam sejarahnya, candi ngetos sangat  erat kaitannya dengan dua kerajaan yang ada di Jawa Timur. Kerajaan-kerajaan itu adalah kerajaan Ngatas Angin dan kerajaan Majapahit. Dipercaya juga, bahwa candi ngetos adalah tempat dalam menaruh abu dari raja Majapahit yaitu Hayam Wuruk. Oleh karena keunikan sejarah dan bentuk bangunannya, maka kami berusaha untuk menguak secara mendalam keberadaan candi Ngetos, baik dari segi sejarah serta dari segi arsitektur bangunannya.

1.2  Rumusan Masalah
a.       Apa sejarah yang ada dalam candi Ngetos?
b.      Apa saja unsur-unsur serta makna yang unik dalam arstitektur candi Ngetos?
c.       Bagaimana eksistensi bangunan candi Ngetos dengan pengembangan pariwisata?

1.3  Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui segala hal yang terkandung dalam candi Ngetos, guna mengetahui secara mendalam mulai dari sejarahnya, makna dalam arsitektur bangunan serta eksistensi bangunannya dalam hal pariwisata.

1.4  Kerangka Pemikiran/Telaah Pustaka
Kerangka penelitian dalam makalah yang berjudul “Simbol Dan Makna Candi Ngetos Di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur“, penelitian ini menggunakan teori simbolik interpretatif dari Clifford Geertz, bahwa kebudayaan mengandung pemahaman makna dari ekspresi kebudayaan yang merupakan keseluruhan pengetahuan manusia yang dijadikan sebagai pedoman atau penginterpretasi keseluruhan tindakan manusia. Dengan demikian perilaku yang ditampilkan manusia selalu mengandung simbol tertentu. Kebudayaan menurut Clifford Geertz merupakan sistem simbol sebuah masyarakat yang sesungguhnya menunjukkan sistem makna. Dalam teori simbolik interpretatif, untuk dapat menerjemahkan sistem pengetahuan ke sistem nilai atau sebaliknya munculah sistem simbol yang dapat menjadi perantara antara keduanya. Titik pertemuan dua sistem tersebut dengan perantara simbol disebut sistem makna. Bentuk primer dari simbolisasi oleh manusia adalah melalui bahasa. Tetapi manusia juga berkomunikasi dengan menggunakan tanda dan simbol dalam lukisan, tarian, musik, arsitektur, mimik wajah, gerak-gerik, postur tubuh, perhiasan, pakaian, ritus, agama, kekerabatan, nasionalitas, tata ruang pemilikan barang, serta dalam penelitian yang dibahas makalah ini adalah melalui bentuk arsitektur bangunan yang ada di candi Ngetos.
Arsitektur dari bangunan candi Ngetos memiliki makna dari bagian-bagian bangunannya. Selain orang yang sering ziarah, juga ada orang luar yang tetarik untuk menyaksikan salah satu situs sejarah peninggalan dari kerajaan terbesar yang pernah ada di Indonesia tersebut. Teori simbolik interpretatif melihat makna dari.bentuk bangunan, bahan bangunan hingga tata letak bangunan candi ngetos, dimana dengan mengkaji beberapa hal tersebut maka akan diperoleh hasil penelitian yang akurat menenai candi ngetos.

1.5  Metode Penelitian
Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan wawancara mendalam beberapa narasumber serta melakukan pengamatan langsung di lapangan komplek wisata Candi Ngetos. Metode kualitatif digunakan dengan mempertimbangkan kesesuaian obyek yang diteliti serta studi ilmu yang bersangkutan bahwasanya semua dilakukan demi mengekspos makna dari bentuk arsitektur di komplek wisata Candi Ngetos.
Metode kualitatif merupakan sebuah metode yang menerangkan secara eksposisi sebuah fokus penelitian seperti halnya makna dari arsitektur yang ada di komplek wisata Candi Ngetos. Selain kami menggunakan metode wawancara pada beberapa narasumber, kami juga melakukan diskripsi analisis dari berbagai studi literatur yang telah ada, untuk memperoleh data yang mendekati akurat terhadap objek yang telah di kaji.

1.5.1    Teknik Penentuan Informan
Dalam upaya pendalaman materi pemilihan informan menjadi sesuatu yang sangat penting mengingat melalui para informanlah asal mula data diperoleh dan dikembangkan dalam proses selanjutnya. Subyek pada penelitian ini ialah informan, dimana dari informan data akan diperoleh selama proses penelitian berlangsung.
Informan dalam penelitian ini ditentukan secara sengaja dengan syarat bahwa yang dipiih sebagai informan ialah orang yang mengetahui tentang obyek penelitian mengenai makna arsitektur di komplek wisata Candi Ngetos. Dimana dalam penentuan narasumber, kami menggunakan cara random. Sehingga kami tidak selalu terpaku pada pendapat yang hanya di ketahui orang tertentu saja, namun dengan random tersebut maka kami lebih mendapatkan informasi yang lebih variatif.

1.5.2    Strategi Pengumpulan Data
Menurut Lofland dan Lofland (1984:47) sebagaimana yang dikutip oleh Lexi J. Moleong bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Dimana data hasil penelitian didapatkan melalui dua sumber data, yaitu:
1.        Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari narasumber atau informan yang dianggap berpotensi dalam memberikan informasi yang relevan dan sebenarnya di lapangan. Dalam penelitian ini, data primer diambil dengan melakukan observasi dan wawancara dengan beberapa narasumber yang mengetahui informasi tentang penelitian kami yang membahas simbol dan makna pada bangunan candi Ngetos.
2.      Data Sekunder
Data sekunder adalah sebagai data pendukung data primer dari penelitian kami diperoleh dengan melalui studi kepustakaan yang diambil dari beberapa buku yang mendukung penelitian kami yang membahas simbol dan makna pada bangunan candi Ngetos.

1.5.3    Autobiografi Kabupaten Nganjuk
Kabupaten Nganjuk adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia dengan ibukotanya di Nganjuk. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro di utara, Kabupaten Jombang di timur, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Ponorogo di selatan, serta Kabupaten Madiun di barat. Nganjuk juga dikenal dengan julukan Kota Angin. Secara geografis Kabupaten Nganjuk terletak antara 11105' sampai dengan 112013' BT dan 7020' sampai dengan 7059' LS. Luas Kabupaten Nganjuk adalah sekitar ± 122.433 Km2 atau 122.433 Ha yang terdiri dari atas:
Tanah sawah 43.052.5 Ha
Tanah kering 32.373.6 Ha
Tanah hutan 47.007.0 Ha
           Dengan wilayah yang terletak di dataran rendah dan pegunungan, Kabupaten Nganjuk memiliki kondisi dan struktur tanah yang cukup produktif untuk berbagai jenis tanaman, baik tanaman pangan maupun tanaman perkebunan sehingga sangat menunjang pertumbuhan ekonomi dibidang pertanian. Kondisi dan struktur tanah yang produktif ini sekaligus ditunjang adanya sungai Widas yang mengalir sepanjang 69,332 km dan mengairi daerah seluas 3.236 Ha, dan sungai Brantas yang mampu mengairi sawah seluas 12.705 Ha.
          
BAB II
PEMBAHASAN

Candi Ngetos terletak di Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, sekitar 17 kilometer arah selatan kota Nganjuk. Bangunannya terletak ditepi jalan beraspal antara Kuncir dan Ngetos. Menurut para ahli, berdasarkan bentuknya candi ini dibuat pada abad XV (kelima belas) yaitu pada zaman kerajaan (Majapahit). Dan menurut perkiraan, candi tersebut dibuat sebagai tempat pemakaman raja Hayam Wuruk dari Majapahit. Bangunan ini secara fisik sudah rusak, bahkan beberapa bagiannya sudah hilang, sehingga sukar sekali ditemukan bentuk aslinya.
Berdasarkan arca yang ditemukan di candi ini, yaitu berupa arca Siwa dan arca Wisnu, dapat dikatakan bahwa Candi Ngetos bersifat Siwa–Wisnu. Kalau dikaitkan dengan agama yang dianut raja Hayam Wuruk, amatlah sesuai yaitu agama Siwa-Wisnu. Menurut seorang ahli (Hoepermas), bahwa didekat berdirinya candi ini pernah berdiri candi berukuran lebih kecil (sekitar 8 meter persegi), namun bentuk keduanya sama. N.J. Krom memperkirakan bahwa bangunan candi tersebut semula dikelilingi oleh tembok yang berbentuk cincin.
Bangunan utama candi tersebut dari batu merah, sehingga akibatnya lebih cepat rusak. Atapnya diperkirakan terbuat dari kayu (sudah tidak ada bekasnya). Yang masih bisa dilihat tinggal bagian induk candi dengan ukuran sebagai berikut :
Panjang candi (9,1 m)
Tinggi Badan (5,43 m)
Tinggi keseluruhan (10 m)
Saubasemen (3,25 m)
Besar Tangga Luar (3,75 m)
Lebar Pintu Masuk (0,65 m)
Tinggi Undakan menuju Ruang Candi (2,47 m)
Ruang Dalam (2,4 m).


A.Sejarah Candi Ngetos
Candi Ngetos, yang sekarang tinggal bangunan induknya yang sudah rusak. Cand ngetos dibangun atas prakarsa raja Hayam Wuruk. Tujuan pembuatan candi ini sebagai tempat penyimpanan abu jenasahnya jika kelak wafat. Hayam Wuruk ingin dimakamkan di sana karena daerah Ngetos masih termasuk wilayah Majapahit yang menghadap Gunung Wilis, yang seakan-akan disamakan dengan Gunung Mahameru. Pembuatannya diserahkan pada pamannya Raja Ngatas Angin, yaitu Raden Condromowo yang kemudian bergelar Raden Ngabei Selopurwoto. Raja ini mempunyai seorang patih bernama Raden Bagus Condrogeni yang pusat kepatihannya terletak disebelah barat Ngatas Angin, kira-kira berjarak 15 km dari bangunan candi.
Diceritakan, bahwa Raden Ngabei Selopurwoto mempunyai keponakan yang bernama Hayam Wuruk yang menjadi raja di Majapahit. Hayam Wuruk semasa hidup sering mengunjungi pamannya dan juga Candi Lor. Wasiatnya kemudian, nanti ketika Hayam Wuruk wafat, jenasahnya dibakar dan abunya disimpan di Candi Ngetos. Namun bukan pada candi yang sekarang ini, melainkan pada candi yang sekarang sudah tidak ada lagi.
Konon ceritanya pula, di Ngetos dulu terdapat dua buah candi yang bentuknya sama (kembar), sehingga mereka namakan Candi Tajum. Hanya bedanya, yang satu lebih besar dibanding lainnya. Krom juga berpendapat, bahwa disekitar candi Ngetos ini terdapat sebuah Paramasoeklapoera, tempat pemakaman Raja Hayam Wuruk. Mengenai kata Tajum dapat disamakan dengan Tajung, sebab huruf “ng” dapat berubah menjadi huruf “m” dengan tanpa berubah artinya. Misalnya Singha menjadi Simha dan akhirnya Sima. Hal ini sesuai dengan pendapat Soekmono yang menyatakan bahwa setelah Hayam Wuruk meninggal dunia, maka makamnya diletakkan di Tajung, daerah Berbek, Kediri.
Selanjutnya diceritakan, bahwa Raja Ngatas Angin R. Ngabei Selupurwoto mempunyai saudara di Kerajaan Bantar Angin Lodoyo (Blitar) bernama Prabu Klono Djatikusumo, yang kelas digantikan oleh Klono Joyoko. Raja-raja ini ditugaskan oleh Hayam Wuruk untuk membuat kompleks percandian. Raden Ngabai Selopurwoto di kompleks Ngatas Angin menugaskan Empu Sakti Supo (Empu Supo) untuk membuat kompleks percandian di Ngetos. Karena kesaktiannya maka dalam waktu yang tidak terlalu lama tugas tersebut dapat diselesaikan sesuai petunjuk.

B.Unsur-Unsur Dan Makna Dalam Candi Ngetos
Bahan Candi
Bahan adalah kunci dalam pembangunan suatu candi, dari bahan pula kita dapat menentukan seberapa kuat bangunan candi dapat berdiri kokoh. Dari hasil pengamatan dan wawancara yang saya lakukan di candi Ngetos, dapat saya ketahui bahan-bahan yang digunakan dalam mendirikan candi Ngetos. Bahan-bahan itu antara lain:
a.       Batu bata
Batu bata adalah bahan yang dominan dalam bangunan dari bagian badan candi, seperti yang kita ketahui bahwa batu bata merah adalah bahan yang umum kita temukan dalam bangunan-bangunan candi yang ada di Jawa Timur
b.      Batuan alam
Batuan alam adalah salah satu jenis batuan yang dapat kita temui di bangunan candi Ngetos, khususnya pada bagian arca candi. Arca berupa batu yang dapat kita temui adalah arca Siwa dan arca Wisnu, karena pada dasarnya agama Siwa-Wisnu adalah agama yang menjadi kepercayaan Majapahit pada masa itu. Batuan alam yang digunakan membuat arca tersebut adalah batuan andesit.
c.       Perekat
Perekat dalam hal ini adalah seperti halnya semen pada jaman sekarang, karena dipercaya pada jaman dahulu tidak ada semen maka bahan perekat alami yang dipakai. Dari beberapa sumber ada yang mengatakan bahwa dalam pembangunan candi, batu bata tersebut di berikan putih telur agar dapat menempel. Selain itu ada pula pendapat yang menyebutkan bahwa dalam pembangunannya, batu bata direkatkan menggunakan tanah liat yang dicampuri kotoran lembu guna memperkuat bangunan candi.

Relief
Relief pada Candi Ngetos terdapat empat buah, namun sekarang hanya tinggal satu, yang tiga telah hancur. Pigura-pigura pada saubasemennya (alasnya) juga sudah tidak ada. Di bagian atas dan bawah pigura dibatasi oleh loteng-loteng yang terbagi dalam jendela-jendela kecil berhiaskan belah ketupat yang bagian tepinya tidak rata. Hal ini berbeda dengan bangunan bawahnya yang tidak ada piguranya, sedangkan tepi bawahnya dihiasi dengan motif kelompok buah dan ornamen daun.
Di sebelah kanan dan kiri candi terdapat dua relung kecil yang di atasnya terdapat ornamen yang mengingatkan pada belalai makara. Namun jika diperhatikan lebih seksama, ternyata suatu bentuk spiral horisontal, melingkari tubuh candi bagian atas. Dindingnya terlihat kosong, tidak terdapat relief yang penting, hanya di atasnya terdapat motif daun yang melengkung ke bawah dan yang menarik adalah motif kala yang amat besar, yaitu berukuran tinggi 2 x 1,8 meter. Kala adalah bentuk wajah dari raksasa yang pada umumnya di Indonesia motif semacam ini terdapat pada pintu-pintu muka suatu percandian. Kala pada candi ngetos sudah banyak yang rusak, hanya masih menyisakan bagian yang utuh dan terletak disebelah selatan. Wajah dari kala dibuat menakutkan, karena menggambarkan bahwa kala tersebut mempunyi kewibawaan yang besar dan agaknya dipakai sebagai penolak bahaya. Motif kala semacam ini didapati hampir pada seluruh percandian di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali, dimana pada motif Jawa Timur lebih realistis sedangkan pada Jawa Tengah lebih distilir atau disamarkan dan tidak menggunakan dagu.

 Arca Candi
Di Candi Ngetos sekarang ini tidak didapati lagi satu arcapun. Namun menurut penuturan beberapa penduduk yang dapat dipercaya, bahwa di dalam candi ini terdapat dua buah arca, paidon (tempat ludah) dan baki yang semuanya terbuat dari kuningan. Krom pernah mengatakan bahwa di candi diketemukan sebuah arca Wisnu yang kemudian disimpan di Kediri, sedangkan yang lain tidak diketahui tempatnya. Meskipun demikian bisa dipastikan bahwa candi Ngetos bersifat Siwa-Wisnu, walaupun mungkin peranan arca Wisnu disini hanya sebagai arca pendamping. Sedangkan arca Siwa sebagai arca yang utama. Hal ini sama dengan arca Hari-Hara yang terdapat di Simping, Sumberjati yang berciri Wisnu.

Ciri Khas Candi Ngetos Di Banding Candi Khas Jawa Tengah
1.    Untuk candi Jawa Timur seperti candi Ngetos reliefnya lebih sifatnya dekoratif atau 2D, sedangkan candi Jawa Tengah reliefnya lebih naturalis atau 3D.
2.      Candi Jawa Tengah arah hadapnya ke timur, sedangkan candi Jawa Timur arah hadapnya ke barat.
3.      Jawa Tengah menggunakan batuan andesit, sedangkan pada candi di Jawa Timur menggunakan bata merah.
4.      Di Jawa Tengah candi induknya berada di tengah, di Jawa Timur candi induknya di belakang.
5.      Di Jawa Tengah teras candinya lebih panjang, sedangkan di Jawa Timur teras candinya pendek dan bahkan tidak ada.
6.      Hiasan kalawangkara untuk Jawa Tengah lebih distilir disamarkan dan tidak menggunakan dagu), sedangkan pada candi Jawa Timur wajah kala lebih realistis.

Fungsi Dari Candi Ngetos:
1.      Untuk menyimpan jenazah atau abu dari orang yang dianggap suci atau berkuasa. Dalam hal ini adalah untuk menyimpan abu dari raja Hayam Wuruk.
2.      Penyimpanan benda-benda suci. Dimana dalam kegunaan sebagai penyimpanan benda suci, candi Ngetos menyimpan arca-arca yang diantaranya arca Siwa dan Wisnu.
3.      Sebagai tanda peringatan dari tempat terjadinya peristiwa penting. Dimana dalam pendiriannya, candi Ngetos merupakan bangunan yang digunakan untuk menandai pernikahan raja Hayam Wuruk dengan putri dari kerajaan Ngatas Angin.
4.      Sebagai lambang suci agama Siwa-Wisnu.

C.Eksistensi Candi Ngetos Dalam Hal Pariwisata
Dalam kesehariannya, candi Ngetos termasuk objek wisata yang kurang diminati oleh pengunjung sebagai tujuan wisata mereka. Alasannya, selain letaknya yang ada di daerah yang tinggi(daerah pegunungan) juga karena kurangnya perawatan serta lahan yang kurang. Sebab candi Ngetos berada tepat di samping jalan umum dan dikelilingi oleh perumahan warga. Sehingga perlu peran pemerintah daerah setempat guna merawat dan menjaga situs bersejarah tersebut, agar keunikan dari bangunannya serta sejarahnya tidak punah ditelan oleh jaman

Rujukan
·         Hasil pembelajaran mata kuliah KKII
·         Hasil wawancara pada bapak Azis


laporan penelitian kajian penulisan etnografi: gosip sebagai kontrol sosial

Tugas Akhir Kajian Penulisan Etnografi

Gosip Sebagai Kontrol Sosial

Berdasarkan Kajian Fenomenologi


Description: C:\Users\ASPIRE\Downloads\logo_unair.png


Oleh :
Wahono Eko prasetio 071211731072




Progam Studi Antropologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Airlangga
2014



Kata Pengantar


Puji syukur kita panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga saya selaku mahasiswa Antropologi Universitas Airlangga mampu menyelesaikan hasil laporan penelitian mata kuliah Kajian Penulisan Etnografi dengan judul “Gosip Sebagai Kontrol Sosial” ini secara baik dan lancar.
Yang ke dua tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Nur Cahyo Irianto, Bapak Bambang Budiono dan Bapak Tri Joko selaku dosen mata kuliah Kajian Penulisan Etnografi. Karena atas bimbingan beliau selama ini, sehingga saya mendapatkan berbagai ilmu yang sangat bermanfaat  guna menyelesaikan hasil laporan ini. Terima kasih juga kepada teman-teman yang mengikuti mata kuliah Kajian Penulisan Etnografi yang telah memberikan semangat, saran dan dukungan kepada saya selama proses pengerjaan laporan ini.
Tak lupa saya mengucapkan terimakasih kepada saudara Suryo Hadi Kusumo, Akbar Firmansyah dan Jefri selaku informan dalam pembahasan saya mengenai fenomena gosip sebagai kontrol sosial. Karena peran dari mereka semua, maka dapat membantu pekerjaan saya dalam pembuatan laporan ini.
Laporan ini ditulis dan disusun dari hasil penyusunan data-data yang saya peroleh dari penelitian di daerah asal saya di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur pada tanggal 15-17 dan 23-24 Mei 2014. Saya sangat mengharapkan dengan adanya laporan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Laporan ini saya rasa masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat dibutuhkan untuk lebih menyempurnakan makalah ini.
                                                                                             Penulis


Wahono Eko Prasetio





BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Gosip adalah suatu kata yang sudah tidak begitu asing di telinga kita. Gosip selalu kita temukan dalam berbagai tempat, mulai dari sekolah, kampus, tempat perbelanjaan dan lingkungan tempat tinggal kita. Pada era ini, gosip bahkan menjadi produk yang menjanjikan dalam dunia entertaiment. Karena gosip kini menjadi hal terpenting yang perlu ditayangkan di berbagai media massa, baik media cetak maupun media elektronik. Oleh karena populernya, maka banyak media massa yang saling berebut untuk menyajikan acara gosip semenarik mungkin guna menarik minat masyarakat.
Dengan semakin umumnya gosip di telinga masyarakat, maka muncul berbagai hal menarik dengan adanya fenomena gosip tersebut yang layak kita teliti dan kaji hal tersebut secara lebih mendalam. Dimana saya lebih tertarik untuk membahas fenomena gosip sebagai kontrol sosial dalam masyarakat, karena hal tersebut cukup kontras dalam pemahaman saya akan gosip. Dimana dalam pembahasannya sangat bertentangan dengan pemahaman saya akan gosip selama ini. Oleh karena itu, dengan adanyafenomena baru tersebut maka saya tertarik untuk mengupas fenomena tersebut hingga dapat disimpulkan fakta menarik dari pembahasan tersebut
1.2  Rumusan Masalah
a.       Apakah yang dimaksud kontrol sosial?
b.      Apakah pengertian dan penjelasan gosip sebagai kontrol sosial?
c.       Bagaimana tanggapan masyarakat dengan adanya fenomena gosip sebagai kontrol sosial?
1.3  Tujuan  
Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk menguak keberadaan fenomena gosip yang ada dalam masyarakat, guna memberikan kejelasan atas kesimpangsiuran perspektif masyarakat mengenai keberadaan gosip sebagai kontrol sosial. Oleh karena itu, dengan adanya makalah ini maka dapat membuka wawasan kita agar dapat mengetahui fungsi dari gosip yang sebenarnya. Diharapkan setiap masyarakat tidak lagi menyalahgunakan gosip untuk tindakan-tindakan yang menimbulkan permusuhan.
1.4  Kerangka Pemikiran/Telaah Pustaka
Kerangka penelitian dalam makalah yang berjudul “Gosip Sebagai Kontrol Sosial“, peneliti menggunakan kajian aliran antropologi kognitif yang dikembangkan oleh Ward H. Goodenough, seorang ahli linguistik yang tertarik pada kebudayaan. Di dalam pemahamannya, aliran ini ingin mengkaji antar hubungan di antara bahasa, kebudayaan dan kognisi. Dengan kata lain, tujuan dari pembahasan ini bertujuan untuk memandang kebudayaan sebagai kognisi manusia. Hal mendasar yang menjadi pusat pembahasan dalam kajian Goodenough adalah hal-hal yang mendalam dari kehidupan individu anggota masyarakat, seperti tentang bagaimana anggota masyarakat memandang benda-benda, kejadian-kejadian dan makna-makna dari dunianya.
Dari pembahasan tersebut, kognitif identik dengan kajian analisis budaya karena memiliki kesamaan asumsi, yaitu mengkaji tentang pikiran manusia perilaku budaya dalam kajian mendalam, apa yang ada dibalik pahamnya mengenai benda-benda, kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa di dalam kehidupannya. Oleh karena itu, saya tertarik untuk mengambil tema mengenai gosip sebagai kontrol sosial. Karena saya menganggap tema itu sangat menarik bila dikaji dengan perspektif fenomenologi dan pemikiran dari Goodenough agar lebih mudah kita pahami dan terima, sehingga  perlu ditelaah lebih mendalam mengenai keberadaan gosip, serta bagaimana pemaknaanya yang ada dalam perspektif setiap anggota masyarakat.
1.5  Metode Penelitian
Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan wawancara mendalam beberapa narasumber serta melakukan pengamatan langsung di dalam masyarakat. Metode kualitatif digunakan dengan mempertimbangkan kesesuaian obyek yang diteliti serta studi ilmu yang bersangkutan, bahwasanya semua dilakukan demi mengekspos makna dari gosip dalam masyarakat berdasarkan pandangan masing-masing individu.
Metode kualitatif merupakan sebuah metode yang menerangkan secara eksposisi sebuah fokus penelitian seperti halnya makna dari keberadaan gosip sebagai kontrol sosial, melalui wawancara kepada beberapa narasumber. Metode kualitatif yang saya gunakan untuk mendapatkan informasi, tentunya diperlukan sebuah cara pendekatan atau  partisipasi observasi yang menghasilkan metode diskripsi analisis, dimana peneliti melakukan observasi yang mendalam dengan turun langsung ke lapangan guna mendapatkan pengetahuan yang seluas-luasnya terhadap objek penelitian serta mencari rujukan-rujukan lain untuk perbandingan analisisnya.
1.5.1        Teknik Penentuan Informan
Dalam upaya pendalaman materi pemilihan informan menjadi sesuatu yang sangat penting mengingat melalui para informanlah asal mula data diperoleh dan dikembangkan dalam proses selanjutnya. Subyek pada penelitian ini ialah informan, dimana dari informan data akan diperoleh selama proses penelitian berlangsung.
   Informan dalam penelitian ini ditentukan secara sengaja dengan syarat bahwa yang dipiih sebagai informan ialah orang yang mengetahui dan terlibat langsung dengan obyek penelitian mengenai gosip sebagai kontrol sosial.

1.5.2        Strategi Pengumpulan Data
Menurut Lofland dan Lofland (1984:47) sebagaimana yang dikutip oleh Lexi J. Moleong bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Dimana data hasil penelitian didapatkan melalui dua sumber data, yaitu:
1.        Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari narasumber atau informan yang dianggap berpotensi dalam memberikan informasi yang relevan dan sebenarnya di lapangan. Dalam penelitian ini, data primer diambil dengan melakukan observasi dan wawancara dengan beberapa narasumber  yang mengetahui informasi tentang penelitian kami yang berjudul gosip sebagai kontrol sosial. Wawancara merupakan teknik yang digunakan dalam rangka upaya penggalian data.
2.      Data Sekunder
Data sekunder adalah sebagai data pendukung data primer dari penelitian kami diperoleh dengan melalui studi kepustakaan yang diambil dari beberapa buku serta beberapa tulisan yang mendukung penelitian kami tentang fenomena gosip sebagai kontrol sosial.



BAB II
PEMBAHASAN
Akhir-akhir ini sering kita membaca, mendengar dan melihat banyak terjadi kasus penyimpangan di masyarakat. Pembunuhan, mutilasi, pemerkosaan, penipuan, narkoba dan sebagainya, selalu menjadi berita utama di media massa. Masyarakat semakin dibuat resah dengan semakin banyaknya berbagai peristiwa kejahatan serta penyimpangan-penyimpangan sosial tersebut. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah serta aparat, baik secara preventif maupun represif untuk mengendalikan berbagai penyimpangan yang terjadi di masyarakat, namun naasnya adalah upaya secara hukum terkesan kurang efektif dalam mengatasi permasalahan tersebut. Berbagai analisa kian kompleks terhadap terjadinya sebuah kasus, tetapi terkadang tindakan solutif dan preventif tidak terealisasi karena terkesan kurang adanya perhitungan yang matang. Artinya, dengan kesimpangsiuran keputusan dari pemerintah maka penyimpangan sosial tetap menjadi tontonan dan momok bagi masyarakat. Timbul pertanyaan, mengapa banyak terjadi penyimpangan sosial?.
Jawaban dari pertanyaan mengenai penyebab semakin banyaknya penyimpangan sosial adalah karena semakin longgarnya norma-norma yang ada dalam masyarakat. Sehingga terkadang muncul berbagai tindakan-tindakan dimana seseorang untuk melepaskan dari ikatan tersebut dan menciptakan dunianya sendiri. Dimana dalam kesehariannya, sering kita temui bahwa dalam tindakan penyimpangan yang dilakukan oleh seseorang tersebut disebabkan oleh semakin acuhnya masyarakat untuk mengawasi perilaku menyimpang tersebut. Sehingga akhirnya timbullah berbagai pertanyaan mengenai bagaimana cara dalam mengatasi penyimpangan sosial tersebut.
 Dengan semakin banyak pertanyaan terhadap penyimpangan sosial, maka bermunculanlah berbagai cara yang diharapkan mampu dalam mengatasi permasalahan tentang penyimpangan sosial. Salah satu cara yang digunakan untuk mengatasi penyimpangan sosial diantaranya adalah dengan melakukan kontrol. Upaya kontrol bertujuan untuk mengantisipasi dan memberikan solusi terhadap penyimpangan sosial, upaya kontrol tersebut lebih dikenal dengan sebutan kontrol sosial. Kontrol sosial merupakan sebuah proses yang direncanakan atau tidak direncanakan, tujuannya adalah untuk mengajak, membimbing, bahkan memaksa individu atau kelompok dalam masyarakat agar mematuhi nilai-nilai atau aturan-aturan yang berlaku di masyarakat mereka berada.
Dengan kata lain kontrol sosial merupakan tindakan pengawasan terhadap perilaku anggota masyarakat agar tidak melakukan penyimpangan. Tujuan dari kontrol sosial sendiri selain melakukan pengawasan, kontrol dan juga bertujuan untuk membatasi setiap tingkah laku kelompok atau individu dalam masyarakat agar tetap dalam batas kewajaran dimasyarakat tersebut.
 Perlu diketahui Manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa lepas dari orang lain. Interkasi sosial merupakan bentuk dari hubungan antar manusia yang saling membutuhkan. Dalam berinteraksi tersebut tidak jarang timbul masalah, misalnya terjadi beda pendapat, salah paham, berselisih dam kemudian berkelahi. Adu fisik terkadang dianggap sebagai alternatif penyelesaian masalah, padahal kenyataannya justru menambah masalah baru. Tentunya kita semua berharap masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan akan kembali pada situasi dan kondisi semula. Dari ketegangan itu, tentu upaya yang disebut kontrol sosial sangatlah dibutuhkan dalam membatasi permasalahan agar tidak membesar dan menimbulkan masalah lainnya.
Menurut Koentjaraningrat , ada tiga proses sosial yang perlu mendapat pengendalian sosial, yaitu:
1.Ketegangan sosial yang terjadi antara adat-istiadat dan kepentingan individu.
2.Ketegangan sosial yang terjadi karena adanya pertemuan antar golongan khusus.
3.Ketegangan sosial yang terjadi karena golongan yang melakukan penyimpangan secara sengaja menentang tata kelakuan atau peraturan.
Dari penjelasan oleh Koentjaraningrat mengenai proses sosial yang perlu mendapat kontrol sosial. Dalam kontrol sosial itu sendiri juga terdiri dari beberapa cara dan bentuk kontrol. Salah satu tokoh yang menyinggungnya adalah Robert M. Z Lawang, dimana beliau mengemukakan beberapa cara dan bentuk kontrol sosial yang biasanya dilakukan orang dalam suatu masyarakat untuk mengontrol perilaku orang lain yang menyimpang, antara lain:
             1.Desas-desus (gosip)
             2.Kekerasan
             3.Hukuman
             4.Intimidasi
             5.Ostratisme

Dari sekian banyaknya cara dan bentuk pengendalian sosial, saya lebih tertarik pada pengendalian sosial melalui gosip. Istilah gosip saya ambil karena istilah ini sering kita temui khususnya dalam kehidupan sehari-hari. Istilah gosip begitu fenomenal dan banyak diperbincangkan oleh berbagai macam lapisan sosial dalam masyarakat tanpa mengenal status serta golongan. Gosip sering juga disebut sebagai kabar burung. Pengertian gosip adalah suatu berita yang menyebar belum tentu atau tanpa berlandaskan pada kenyataan atau fakta. Dengan demikian, gosip bisa saja benar, namun bisa pula salah. Jadi, berita dalam gosip masih diragukan kebenarannya, sebab seringkali berita dalam gosip tidak jelas sumbernya. Umumnya, gosip muncul bila pernyataan secara terbuka tidak mungkin dilontarkan langsung kepada orang tersebut. Oleh sebab itu, berita kemudian tersebar melalui mekanisme pembicaraan antara orang satu dengan orang yang lain. Melalui mekanisme seperti itu, berita akan tersebar dengan cepat.
Dalam pembahasan yang akan saya bahas, saya akan menguak sisi lain dari fenomena gosip berdasarkan perspektif antropologi berdasarkan kognisi dalam masyarakat mengenai keberadaan gosip. Karena seperti kita tahu bahwa tak selamanya gosip itu berdampak buruk pada masyarakat, namun ada pula dampak positif yang tersimpan dalam gosip. Oleh karena itu, saya akan berusaha menguak dan berusaha membangun pemahaman baru dari gosip sebagai kontrol sosial. Dimana dengan pemahaman yang baru tersebut, maka masyarakat dapat mengetahui dan paham bahwa tak selamanya suatu tindakan yang dianggap buruk belum tentu buruk. Seperti halnya gosip, tidak akan bermakna buruk apabila kita dapat memanfaatkannya dengan bijak. Semua itu tergantung pemikiran dalam kognisi yang telah ada, seehingga perlu bagi kita untuk membuka peta kognisi tersebut agar pikiran kita hanya memikirkan hal negatifnya saja dari suatu fenomena sosial.
Dalam penelitian yang saya lakukan ini, saya ingin mengkaji mengenai fenomena keberadaan gosip sebagai kontrol sosial yang terjadi pada masyarakat di daerah asal saya yang ada di Kabupaten Nganjuk. Meskipun banyak tempat yang memiliki fenomena yang sama, namun saya memilih daerah asal saya karena dari daerah tersebut saya pernah mengalami dan terlibat langsung dalam masyarakat disana. Sehingga dengan keterlibatan saya dalam masyarakat tersebut, maka diharapkan dapat diperoleh data dan informasi yang lebih mendalam mengenai pokok bahasan yang saya angkat dalam makalah penelitian ini. Selain itu, saya memilih melakukan penelitian di daerah saya karena perilaku bergosip masih mudah di temui. Berbeda dengan dikota besar, kita akan sulit untuk melihat perilaku bergosip karena terkadang antara masyarakat satu dengan yang lain saja sudah saling tak kenal.
Gosip sebagai bentuk kontrol sosial, maksud dari istilah ini adalah dimana gosip itu sendiri berfungsi untuk membatasi atau sebagai pembatas  setiap perilaku yang ada dalam masyarakat. Dalam praktik kehidupan sehari-hari masyarakat yang saya teliti, disana pasti dengan mudah menemui apabila ada seseorang yang sedang melakukan kesalahan lalu tak lama dari waktu terjadinya akan ada desas-desus yang memperbincangkan kesalahan seseorang tersebut. Misalnya saja ada anak perempuan yang pulang larut malam, pasti keesokan harinya  ibu-ibu yang tinggal disekitarnya pasti akan menggosipkan anak tersebut mengenai perilakunya yang dianggap menyimpang. Dengan seringnya menjadi bahan pembahasan, tentunya anak tersebut pasti akan mengalami suatu tekanan sosial yang lama-kelamaan dapat mempengaruhi sisi psikologis anak tersebut agar tidak melakukan hal yang sama lagi.
Dari contoh tersebut, dapat kita ketahui bahwa gosip juga selain membatasi perilaku namun juga dapat merubah pribadi individu agar dapat beradaptasi dalam kehidupan bermasyarakat. Tentu peran gosip dapat sangat terlihat, khususnya untuk memberikan tekanan serta tuntutan yang dilakukan masyarakat untuk merubah perilaku yang menyimpang agar kembali sesuai dengan apa yang dianggap wajar dalam masyarakat.
Dalam eksistensinya dalam masyarakat, gosip pasti memiliki sisi pro dan kontra. Layaknya dua sisi uang koin, apabila ada yang mendukung gosip pasti ada pula yang menolak keberadaan dari gosip. Dari hasil wawancara yang saya dapatkan dari 3 narasumber berbeda, 2 diantara mereka mendukung dengan adanya gosip sebagai kontrol sosial, karena dianggap dengan adanya gosip sebagai kontrol sosial maka perilaku mereka akan lebih terkontrol dalam berperilaku sehingga tidak menyimpang dari masyarakat.
Saya setuju saja dengan adanya gosip sebagai kontrol sosial, dengan adanya gosip tersebut maka saya lebih terkendali dalam berperilaku dalam masyarakat. Sehingga apabila saya menjadi bahan gosip, maka saya akan sadar bahwa perilaku saya ada yang menyimpang dan tentunya saya akan berusaha memperbaikinya (Suryo,14/5)





Walaupun bagi mereka yang mendukung gosip menganggap bahwa keberadaan gosip sangat membantu mereka dalam menentukan cara berperilaku agar sesuai dengan aturan dalam masyarakat, namun bagi mereka yang menolak keberadaan gosip mereka merasakan bahwa dengan adanya gosip maka setiap perilaku dan kegiatan mereka serasa seperti terlalu di batasi. Dari pembatasan atas kebebasan berperilaku tersebut, mereka yang menolak keberadaan gosip tidak dapat mengekspresikan apa yang mereka inginkan, sebab setiap tindakan mereka selalu di anggap menyimpang oleh masyarakat. Padahal bagi mereka, tindakan yang mereka lakukan tak selamanya bersifat negatif. Oleh karena itu timbul suatu perspektif baru, dimana mereka yang menolak gosip itu menganggap bahwa para orang yang mendukung gosip itu sebagai orang yang munafik dan selalu ingin tahu urusan orang lain.
 Menurut saya, alasan mengenai gosip dari mereka yang menolak gosip memang ada benarnya juga. Sebab berdasarkan pengalaman saya, para penggosip tersebut selalu berusaha mencari-cari kesalahan orang lain dan melebih-lebihkan suatu permasalahan hingga terkesan yang tadinya tidak menyimpang menjadi seolah-olah menyimpang. Hal itu tentunya sangat mengganggu, apalagi kalau mengingat bahwa perilaku seseorang tak selalu menyimpang dan selalu berdampak negatif. Oleh karena itu, saya mencoba untuk membuka pemikiran mereka mengenai makna gosip yang sesungguhnya. Jadi tidak ada lagi yang salah dalam mengartikan dan memanfaatkan gosip untuk tindakan lain yang bersifat menguntungkan salah satu pihak saja, namun diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak.
Ada kalanya perilaku seseorang yang dianggap menyimpang itu bersifat positif. Misalnya saja ada masyarakat desa yang masih terbelakang, lalu ada salah seorang dari anggota masyarakatnya pergi ke kota dan belajar disana. Tak lama kemudian seseorang itu kembali kedesanya dan mengkritisi tentang pola dalam kehidupan tradisional yang sebenarnya salah tapi dibenarkan di desanya. Misalnya saja mengenai tradisi dalam pengobatan di desa yang menggunakan bahan-bahan yang sebenarnya tidak layak digunakan, namun karena tradisi maka bahan tersebut dipakai oleh masyarakat. Karena dianggap membawa pengetahuan yang tidak sama dengan daerah asalnya, maka timbul desas-desus dalam masyarakat mengenai orang tersebut.



Dalam kesehariannya, terkadang gosip sering disalahgunakan oleh masyarakat. Pada awalnya tujuan dari gosip adalah untuk mengontrol keadaan sosial dalam suatu masyarakat, namun dengan seiring jaman maka gosip menjadi suatu kebutuhan sendiri bagi masyarakat untuk meluapkan sifat iri serta dengki mereka kepada orang lain. Dari beberapa orang, cukup banyak yang terganggu dengan keberadaan hal semacam itu.
Saya merasakan dengan adanya gosip, maka segala kreatifitas saya menjadi terbatasi. Padahal perilaku yang saya lakukan sebenarnya tidaklah menyimpang. Mereka yang suka menggosip itu sebenarnya munafik, karena orang yang melakukannya hanya itu-itu saja dan inginya hanya membicarakan orang lain dan mereka tidak mau apabila dibicarakan oleh orang lain(Jefri,15/5).

Dari berbagai pendapat mengenai adanya fenomena gosip sebagai kontrol sosial dapat dirumuskan bahwa seperti kajian oleh Ward H. Goodenough bahwa hal tersebut termasuk dalam fenomena-fenomena mental. Dimana dari fenomena mental tersebut tentunya memiliki dampak terhadap sisi psikologis bagi individu yang mengalaminya. Kemudian beliau menjelaskan fenomena tersebut sebagai bagian dari kebudayaan, dimana kebudayaan menurt beliau adalah “ kebudayaan suatu masyarakat yang terdiri dari apapun yang harus diketahui atau dipercayai untuk dapat berfungsi sedemikian rupa sehingga dianggap pantas oleh anggota-anggotanya. Kebudayaan bukanlah fenomena material, tidak terdiri atas benda-banda, perilaku dan emosi, melainkan ia lebih merupakan suatu pengaturan hal-hal tersebut. Yang ada dalam pikiran orang adalah bentuk benda-benda dan hal-hal, model-model untuk mempersepsi, menghubung-hubungkan dan selebihnya menafsirkan.”
Dari pembahasan tersebut dapat diketahui bahwa dalam pembahasannya, Goodenough bertujuan untuk membedakan antara dampak yang akan terjadi dalam individu dalam memaknai suatu kejadian. Tentunya dalam pemaknaanya pasti tidak akan sama antara satu individu dengan individu lain. Oleh karena itu, keterbukaan pola pemikiran sangatlah diperlukan dalam menjelaskan fenomena gosip itu sendiri. Dengan semakin terbuka pola pemikirannya maka akan semakin mudah suatu nilai diterima dan tidak disalah gunakan. Maka perlu diketahui, gosip tidaklah selalu berdampak buruk. Pandangan baik buruk mengenai gosip tergantung pada penggunanya. Apabila dapat dimanfaatkan secara baik dan benar, gosip dapat sangat berguna bagi setiap pengguna maupun penerima gosip.


Dari berbagai pembahasan tersebut perlu diperjelas lagi bahwa sesungguhnya gosip itu memiliki banyak sekali kegunaan bagi setiap anggota masyarakat. Penggunaan dari gosip tentu tergantung dari seseorang yang ingin menyampaikannya. Pada masyarakat nganjuk sendiri, gosip masih sering dipakai untuk menggunjing orang lain, namun sebagian lagi sudah memakainya secara benar sebagai kontrol sosial. Dari fakta yang saya temukan tersebut, terlihat jelas bahwa mulai terbangun peta kognisi baru pada masyarakat setempat mengenai fungsi dari gosip yang sebenarnya. Oleh karena itu, perlu dukungan dari berbagai lapisan masyarakat untuk tidak menggunakan gosip tidak sesuai fungsinya lagi. Sehingga apabila hal tersebut terwujud, maka akan terciptalah masyarakat yang aman, tentram dan juga damai.

Kesimpulan
Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan adanya fenomena yang muncul dalam masyarakat seperti halnya gosip, maka kita janganlah selalu terfokus pada satu pemikiran saja. Kita diharapkan mampu untuk lebih membuka pemikiran kita terhadap hal-hal yang bersifat baru, namun dengan memperhatikan pastas atau tidaknya hal yang baru tersebut apabila harus di terapkan dalam masyarakat. Seperti yang kita tahu mengenai perbedaan pendapat mengenai  keberadaan gosip dalam masyarakat, hal itu sebenarnya bukanlah permasalahan yang perlu dibesar-besarkan. Kunci dalam pemecahan masalah itu sebenarnya cukup sederhana, dimana kita harus dapat membuka peta kognisi dalam masyarakat. Dengan dibukanya peta kognisi tersebut, maka masyarakat dapat lebih terbuka dalam menerima hal-hal baru dan sekaligus melakukan kontrol terhadap hal baru tersebut. Selain permasalahan tersebut, wujud dari sifat kontrol dalam masyarakat juga harus diperhatikan. Dimana kita jangan terlalu menghakimi atau seolah mengucilkan seseorang yang melakukan kesalahan, karena sesungguhnya tindakan itu sangat bertentangan dengan prinsip kemanusiaan. Kita selayaknya harus lebih bijaksana dalam mengatasi suatu permasalahan, jangan sampai niatan ingin menyelesaikan permasalahan malah kita menyulut permasalahan lain yang lebih besar. Sesuai dengan tujuan akhir penulisan saya, saya dalam tulisan ini mengajak masyarakat agar lebih bijak dalam memahami dan menerapkan gosip sebagai kontrol sosial. Saya mengharapkan dengan adanya laporan ini maka kita lebih bijak dalam berperilaku, sehingga kehidupan dalam masyarakat lebih terkontrol dan terhindar dari berbagai konflik.

Transkrip wawancara:
Dalam wawancara yang saya lakukan, saya mewawancarai 3 orang narasumber yang tinggal di sekitar rumah saya. Berikut adalah hasil wawancara saya:
W    : selamat siang teman-teman, boleh saya mengganggu waktu kalian sebentar saja?
S&A: boleh, tapi kalau jawab singkat-singkat ya. Gak apa kan?
W    : boleh kok, saya mulai ya..pertanyaan pertama, apa yang anda ketahui tentang gosip?
S     : gosip itu ngomongin aib dari orang lain, biasanya dilakukan sama ibu-ibu yang kurang kerjaan.
A    : kalau menurut saya, gosip itu desas-desus atau bisa di belang sebagai kabar yang masih perlu dipertanyakan kebenarannya.
W    : lalu apakah kalian tau keuntungan dari gosip?
A   : menurut saya, gosip itu gak ada untungnya. Paling ya dianggap untung kalau yang di gosipkan itu artis, sebab makin banyak di gosipkan maka penghasilan dan ketenaran mereka bakalan naik.
S    : kalau menurut saya itu dengan adanya gosip maka perilaku kita lebih terkontrol dan dengan adanya gosip maka kita memiliki patokan berperilaku agar sesuai dengan masyarakat.
W    : tepat sekali jawaban mas suryo, anda mendapat jawaban itu dari pengalaman atau sekedar tahu saja?
S    : itu dulu pernah di ajarkan oleh guru sekolah saya, lalu saya juga mempraktikkannya dalam kehidupan saya dalam masyarakat.
W   : lalu bagaimana pendapat anda mengenai fenomena gosip sebagai kontrol sosial?
A   : mendengar penjelasan dari suryo saya setuju saja dengan adanya gosip sebagai kontrol sosial. Asalkan masih dalam batas wajar.
S   : saya setuju saja, asalkan gak berlebihan dan mencari-cari permasalahan untuk bahan pembicaraan. Karena itu mengganggu saya dan korban gosip lainnya.

Tak lama setelah saya ingin menutup wawancara, datang lagi seorang tetangga saya yang lagsung saja menjawab pertanyaan yang sempat saya ajukan pada suryo dan akbar.
J   : saya tidak setuju dengan adanya gosip, kalau ada gosip kebebasan seseorang itu semakin terbatas. Padahal tidak setiap perilaku itu negatif, namun masyarakatitu kada terlalu kolot dan tidak memandang aspek positif dari suatu hal baru.
W : lalu apa pendapat anda dengan gosip sebagai kontrol sosial, itu kan menurut saya termasuk hal positif dari gosip?
J   : positif apanya, gosip ya tetap gosip. Kalau di buat kontrol sosial itu harusnya mereka yang menggosipkan kita itu sadar. Jangan hanya inginya membicarakan orang lain saja, tapi waktu mereka ganti di bicarakan malah marah. Itu kan sama saja gak adil.
S  : ada benarnya juga sih sama jawaban dari jepri. Mungkin gosip itu cuma buat kalangan tertentu saja kok. Sebab dari saya kecil sampai sekarang ya yang tukang gosip cuma orang-orang itu saja. Sepertinya gak ada toleransi dalam pergosipan.
W : ya sudah kalau begitu, terima kasih atas bantuan anda semua. Terima kasih atas bantuannya.
A   : iya, bagus kalau sudah selesai. Sebelum temanya jadi gak karuan lagi.
W  : terima kasih ya mas.

Rujukan:
·         Buku Mahzab-Mahzab Antropologi